Bhinneka di Dunia Maya, Tunggal Ika kah Kita?

“Jika rakyat Tionghoa dan Pribumi bersatu, maka subur tanah ini”  itulah dialog yang terngiang ketika berbicara tentang Kebhinnekaan. Salah satu kutipan dialog dalam film Guru Bangsa H.O.S. Tjokroaminoto, kutipan yang singkat namun dapat merepresentasikan kenapa sampai saat ini terjadi perpecahan di Indonesia, karena banyak campur tangan dunia atau Negara luar yang tidak ingin melihat Negara atau Tanah Air kita, Indonesia ini bersatu. Kenapa demikian? Jelas, dari Sabang sampai Merauke, kita kaya akan sumber daya alam yang sejatinya ketika kita mengolah dan memanfaatkannya dengan bijak maka sejahteralah seluruh rakyat Indonesia, pun ketika kita bahu membahu dan bersatu maka semakin kuat Negara Indonesia ini.

Di era sekarang, bila kita ingin menguasai dunia, maka kuasailah dunia maya, begitu kiranya perkataan yang disampaikan oleh Bpk. Prof Karim Suryadi dalam sebuah diskusi. Tentu kita sudah tahu jika senjata terkuat yang dapat memunculkan peperangan yakni bahasa yang kita paparkan baik dalam bentuk ucapan atau tulisan. Hal ini, kiranya yang terjadi di dunia maya atau media sosial, yakni kondisi dimana berbagai ujaran kebencian bertebaran dimana-mana, antar sesama masyarakat, saudara, pemimpin, dan sebagainya.

Keragaman masyarakat di Indonesia, sama halnya dengan ragam masyarakat di dunia maya. Bahkan, saya pernah melihat informasi dalam cuplikan video “Socionomics”, bahwa populasi terbesar di dunia saat ini bukan lagi China, melainkan Facebook.

Ini menunjukkan bahwa dunia maya atau media sosial, ternyata dapat memengaruhi proses kehidupan manusia, terutama bagi dinamika sebuah bangsa. Bagaimana tidak, peristiwa-peristiwa yang mungkin tersimpan dalam rekaman kita, yakni ketika masyarakat berbondong-bondong meramaikan jagat maya sampai akhirnya turun ke jalan dalam kasus Penistaan Agama dengan terdakwa Ahok. Kemudian kita dapat pelajari pula kisah Afi Nihaya, salah seorang generasi penerus bangsa karena tulisan-tulisan pemikirannya terkait kebangsaan yang viral di media sosial setelah kedapatan mengandung unsur pagiarisme, atau terakhir kita menemukan kasus Bullying terhadap salah satu mahasiswa Universitas Gunadarma yang viral juga setelah terekspos ke media sosial.

Satu, dua, atau tiga kasus yang terjadi inilah yang terkadang dan justru menimbulkan perpecahan-perpecahan lainnya entah itu terjadi dalam perang argumen atau komentar yang berdampak panjang terhadap kerukunan antar masyarakat Indonesia, yang tentunya kondisi-kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan tertentu dalam hal ini misal industri hoax yang jelas meraup keuntungan dalam kondisi perpecahan di media sosial. Terkadang pula, konflik diciptakan oleh para hoaxer demi terciptanya rating yang tinggi dan mereka mendapatkan keuntungan melimpah.

Muncul pertanyaan di benak saya, masih bisa Tunggal Ika kah kita? melihat fenomena yang marak terjadi di media sosial. Jawabannya YA. Salah satu faktor penting pemecah masalah ini yakni PENDIDIKAN, atau di era sekarang lebih muncul gaungnya dengan istilah Literasi, Literasi Media. Perlu adanya gerakan masif dalam bentuk pencerdasan atau edukasi terhadap masyarakat luas terkait informasi di media sosial atau di dunia maya.

Masyarakat perlu dipahamkan terkait fitur-fitur yang ada di media sosial, salah satunya memanfaatkan fitur report atau laporkan untuk status atau postingan-postingan yang berbau sara dan menimbulkan perpecahan. Hal ini menjadi cara untuk meredam informasi-informasi hoax atau bohong agar mereka tidak tumbuh dan berkembang. Semakin mereka paham, maka semakin mereka dapat menentukan keputusan atau kebijakan dalam mengolah informasi. Hal ini merupakan salah satu cara merawat Keragaman di Dunia Maya agar kita tidak terpecah belah dengan informasi yang masih dipertanyakan kebenarannya dan lain sebagainya.

Indonesia negara kuat, ketika keragaman itu dijaga dan dirawat dengan sepenuh jiwa dan rasa nasionalisme kita.

Tulisan ini diikutsertakan dalam kegiatan Flash Blogging Bandung dengan tema “72 Tahun Memperkokoh Kebhinekaan dalam Membangun Negeri” yang diselenggarakan oleh Direktorat Kemitraan Komunikasi, Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *